GUPON (The real residence of Tyto alba) in Oil Palm Plantation
1. Pelihara
Tyto alba (Sensus Gupon/kandang burung hantu)
a. Maksud
dan Tujuan
· Untuk
mengetahui kondisi dan perkembangan Tyto
alba
· Untuk
mengendalian hama tikus secara hayati
b. Alat dan
Bahan
1. Alat
·
buku monitoring sensus gupon
·
pena
·
Botol bekas dan tali rafia
·
APD
c.
Cara Kerja
·
Assiten
menginstruksikan untuk melakukan monitoring Tyto
alba
· Mempersiapkan
alat yang akan digunakan kemudian menuju ke blok yang akan dilakukan sensus.
· Dalam
melakukan sensus gupon sebaiknya dilakukan secara urut dimulai dari gupon nomor
1 hingga terakhir
· Setiap
blok terdapat 1 gupon dan diletakkan dipertengahan blok dengan diberi tanda
lokasi gupon pada jaluran gupon tepat di pinggir CR.
·
Pekerja
menaiki tangga pada tiang gupon untuk melihat kondisi Tyto alba yang berada didalam gupon tersebut.
· Hal
pertama kali yang harus diperhatikan adalah gupon tersebut aktif atau tidak dan gupon
dikatakan aktif apabila didalam gupon terdapat kotoran dan makanan dari Tyto alba berupa tikus.
· apabila aktif lalu dilihat tumlah telur, anakan, dan burung
hantu dewasa di catat didalam monitoring.
·
Jumlah
burung hantu dewasa dalam 1 gupon biasanya 2 ekor atau sepasang.
· bila terdapat anakan,
harus dilihat umur
anak Tyo alba dan diperkirakan umur dari anakan tersebut untuk dimasukkan kedalam
keterangan gupon.
· Bila
terdapat telur, maka petugas gupon hanya bertugas untuk menghitungnya dan tidak
boleh disentuh. Hal ini dikarenakan pada kebanyakan kasus, telur tidak dierami induk bila disentuh. Hal ini akan menyebabkan telur menjadi busuk.
· Bila terdapat
pelepah yang menutupi atau menggantung pada tiang gupon, maka harus dipotong
karena dapat menularkan hama atau penyakit.
· Dilihat kondisi tiang gupon dan gupon itu sendiri kemudian
dimasukkan kedalam form monitoring.
· Kemudian,
petugas sensus mengisi monitoring sensus yang diletakkan didalam botol yang
digantung pada gupon tersebut.
·
Bila botol dan
tali pengikat sudah rusak, dapat diganti dengan yang baru.
·
Lanjutkan sensus
ke blok berikutnya sesuai urutan gupon.
d.
Hasil Pelaksanaan
·
Norma 0,02 HK/Ha, atau 1 anggota mengerjakan 50
Ha/HK
| Anak Tyto alba (Burung Hantu) |
| Telur Burung Hantu |
![]() |
| Burung hantu (Tyto alba) |
e.
Pembahasan
Pelihara Tyto alba atau sensus gupon merupakan
kegiatan memonitoring perkembangan burung hantu (Tyto alba) beserta
kondisi gupon serta membersihkan patok gupon pada CR dan kaki tiang gupon dari
gulma yang menutupi. Burung hantu (Tyto alba) merupakan musuh alami
(predator) hama tikus yang dikembangbiakkan di perkebunan kelapa sawit. Satu
pasang burung hantu dapat mengendalikan hama tikus pada luasan areal 1 blok (30
ha). Kemampuan satu pasang burung hantu mampu memakan 1500-1800 ekor tikus per
tahun. Burung hantu berburu di malam hari dan makanan utamanya adalah tikus.
Satu gupon dipasang per
30 ha di pertengahan blok dan diberi tanda berupa patok yang bertulis nomor
gupon pada CR tepat di jaluran dimana gupon dipasang. Letak gupon yaitu blok ganjil
gupon berada pada kemandoran timur dan blok genap pemasangan gupon yaitu pada
kemandoran barat.
Monitoring dilakukan
sebulan sekali. Saat monitoring petugas mengecek setiap gupon yang ada di
divisi serta membersihkan patok gupon pada CR dan kaki tiang gupon dari gulma-gulma yang menutupi. Diperiksa
juga kandang atau tiang gupon agar tidak
bocor dan kemasukan air hujan serta semua pelepah yang bersandar atau melintang
harus dipotong untuk menghalang hama mendapat telur atau anak burung. Setahun
sekali sebelum musim bertelur dikeluarkan semua kotoran, tulang tikus, dan
benda-benda lain-lain dari dalam gupon.
Hal-hal yang diamati saat
monitoring antara lain perkembangan jumlah burung hantu dalam gupon tersebut, jumlah
telur, jumlah anak, dan jumlah burung dewasa yang kemudian dicatat dalam buku
monitoring dan form yang ada pada tiang gupon. Kondisi gupon yang mencakup
tiang penyangga, tangga, maupun rumah gupon bila terdapat kerusakan, maka harus
dicatat dalam buku monitoring. Form monitoring, botol bekas, dan tali dapat
diganti dengan yang baru apabila sudah rusak. Gupon dinyatakan aktif apabila di
dalamnya terdapat tanda-tanda atau bekas aktivitas burung hantu seperti
kotorannya, bekas makanannya (bangkai tikus), maupun burung hantu itu sendiri
(telur, anak, dan dewasa).
Biasanya terdapat satu pasang burung hantu yang aktif dalam satu gupon. Untuk identifikasi Tyto
alba, bila bulu di dada berwarna kuning dengan bintik-bintik hitam maka
burung hantu jantan, untuk burung hantu betina ditandai dengan warna bulu di
dada berwarna putih dengan bintik-bintik hitam. Dibuat juga gupon bayangan di beberapa blok agar anak burung
dapat dipindahkan bila sudah berumur 35 samapi 40 hari. Aktif nya gupon sangat membantu sehingga persentase serangan tikus tidak lebih dari
5%.
Penangkaran dan Pelepasan Tyto
alba ke lapangan
Tata cara penangkaran dan pelepasan Tyto alba
A. Identifikasi
Tyto alba jantan dan betina
· Jantan
ditandai dengan bulu dada berwarna kuning dengan bintik-bintik hitam.
· Betina
ditandai dengan warna bulu di dada berwarna putih dengan bintik-bintik hitam.
· Ukuran
panjang kurang lebih 35 cm, berat
500-600 g, Tyto alba betina lebih
berat.
B. Bertelur
dan mengeram
· Burung
akan bertelur pada umur 8 bulan, dan biasanya burung bertelur setiap 2 hari,
sebanyak 6-7 telur sekali dan dua kali setahun di pertengahan dan akhir tahun.
· Telur
akan menetas setelah 20 hari dierami.
· Biasanya
kurang lebih 5 anak burung sekali menetas dan 9 anak burung per pasang per
tahun. Apabila makan kurang, maka anakny akan dikanibal.
C. Penangkaran
dan pemberian makan burung
· Anak
burung yang ada di lapangan, setelah berumur 35 sampai 40 hari dapat diambil
dan ditangkarkan.
· Anak
burung tersebut diberi makan dengan tikus yang telah dipotong menjadi 4 bagian
kemudian dicacah sampai tulangnya hancur. Jika burung belum mampu makan sendiri
harus disuapi. Jumah makanan minimal 1 ekor tikus per hari sesuai dengan
perkembangan burung.
· Pemberian
makanan dilakukan sore hari sekitar jam 4 sampai jam 5.
· Setelah
burung dapat makan sendiri, tikus cukup dipotong menjadi 2 bagian. Sesudah burung
berumur 3 sampai 4 bulan, tikus tidak perlu dipotong lagi namun harus dimatikan
dulu.
· Tikus
yang sudah busuk tidak boleh diberikan kepada burung hantu.
· Tempat
minum diusahakan berukuran besar karena perilaku burung meminum dengan
memasukan badannya ke tempat minuman.
· Burung
diberi minuman dengan air yang bersih dan diganti setiap hari.
D. Pemindahan
burung dari Gupon ke lapangan
· Burung
yang berumur 3 sampai 4 bulan sudah dianggap dewasa dan dapat dipasangkan untuk
dipindahkan kedalam gupon di lapangan.
· Pada
awal pemindahan, pasangan burung tersebut dikurung di dalam gupon selama 15 hari.
Pada periode ini, burung diberi makan minimal 2 ekor tikus setiap hari.
· Setelah
15 hari pintu gupon dibuka sehingga burung dapat terbang keluar. Pemberian makanan
dilanjutkan sampai 3 hari setelah pintu gupon dibuka sebagai antisipasi jika
burung hantu tersebut belum bisa menangkap tikus sendiri.
E. Kandang
Gupon di lapangan dan pemeliharaannya
· Untuk
kandang gupon, dipasang 1 gupon per 30 Ha dipertengahan blok dan diberikan
tanda lokasinya di CR. Dapat ditingkatkan ke 1 Gupon per 15 Ha. Lokasinya satu
arah Selatan atau an Utara tetapi 3-4 baris ke dalam dari MR.
· Kemampuan
1 pasang burung hantu memakan 1500 s/d 1800 ekor tikus per tahun.
· Setiap
bulan perlu diperiksa tiang dan kandang supaya tidak bocor (masuk air hujan)
serta semua pelepah yang bersandar/melintang dipotong untuk menghalang hama
mendapat telur atau anak burung.
· Melakukan
sensus setiap bulan untuk menentukan gupon aktif dang upon yang ada telur atau anak burung.
· Setahun
sekali sebelum musim bertelur dikeluarkan semua kotoran, tulang tikus dan
lain-lain dari dalam gupon.
F. Kriteria
Gupon aktif
· Ada
tanda-tanda gupon dikunjungo Tyto alba
seperti bulu dan kotoran baru yang ditemukan disekitar atau di dalam gupon.
· Ada
aktivitas kehidupan burung hantu di dalam gupon (perkembangbiakan dan aktivitas
memakan tikus yang ditandai dari adanya sisa-sisa tulang tikus yang baru di
dekat tiang gupon.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar